PENYUSUNAN ROAD MAP ALTERNATIF DEVELOPMENT PENANGANAN NARKOBA

 PENYUSUNAN ROAD MAP ALTERNATIF DEVELOPMENT PENANGANAN NARKOBA 







1. Latar Belakang
    Penanganan narkoba merupakan tantangan serius yang kini dihadapi masyarakat dunia dan diperkirakan akan terus mengancam kehidupan di masa yang akan datang. Penyalahan dalam penggunaan narkoba adalah pemakaian obat-obatan atau zat-zat berbahaya dengan tujuan bukan untuk pengobatan dan penelitian serta digunakan tanpa mengikuti aturan atau dosis yang benar. Dalam kondisi yang cukup wajar atau sesuai dosis uang dianjurkan dalam dunia kedokteran saja maka pengguna narkoba secara terus menerus akan mengakibatkan ketergantungan, depresi, adiks atau kecanduan. Definisi narkoba adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman sintesis maupun semi sintesis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilang rasa dan menimbulkan ketergantungan.
Terdapat 3 (tiga) faktor yang menjadi penyebab memicu seseorang menyalah gunakan narkoba, faktor itu sendiri antara lain; faktor diri sendiri, faktor lingkungan, dan faktor ketersedian narkoba itu sendiri.
a. Faktor Diri Sendiri
1. Keinginan untuk mencoba tanpa memikirkan sebab akibat di kemudian hari
2. Keinginan untuk mencoba – coba karena penasaran
3. Keinginan untuk bersenang – senang
4. Lari dari masalah, kebosanan dan kegetiran hidup
5. Ingin menghibur diri dan menikmati hidup sepuas-puasnya
6. Ketidak tahuan dampak dan bahaya penyalahgunaan narkoba
7. Ketidak mampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan/ berkata tidak pada narkoba.

b. Faktor Lingkungan, dan
1. Keluarga bermasalah/ broken home
2. Lingkungan keluarga yang kurang harmonis
3. Lingkungan pergaulan dan komunitas yang salah
4. Orangtua atau keluarga yang pemisif, tidak acuh, otoriter dan kurangnya pengawasan.
5. Kemiskinan, putus sekolah dan pengangguran.

c. Faktor Ketersediaan Narkoba itu sendiri.
1. Narkoba semakin mudah didapat dan dibeli
2. Harga narkoba semakin murah/ terjangkau dibeli masyarakat
3. Narkoba semakin beragam baik dalam jenis, kemasan dan cara peredaran di masyarakat umum.
4. Bisnis narkoba menjanjikan keuntungan besar.


2. Maksud dan Tujuan 
        Hasil kajian ini akan digunakan tersebut untuk mendukung  Perencanaan Penyusunan Road Map Alternatif Development Penanganan Narkoba Kabupaten Bireuen , maka beberapa permasalahan secara umum sebagai berikut:
  1. Kajian sumber daya yang ada dan luas suatu kawasan Rencana penyusunan Road Map Alternatif Development penanganan Narkoba Kab, Bireuen;
  2. Pengetahuan dan pendidikan tentang pertanian untuk pengalihan fungsilahan kawasan;
  3. Keterbatasan modal tanpa kemitraan usaha yang berkelanjutan dan skala usaha yang layak (economy of scale);
  4. Pemanfaatan areal tanaman muda (palawija) dan tanaman tua; 
  5. Proses Produktifitas perkebunan dan pertanian untuk memenuhi kualitas maupun spesifikasinya dan dibutuhkan pasar;
  6. Pengetahuan dan pendidikan tentang budidaya ternak dan ketersedian pakan;
  7. Penataan tempat Agrowisata dan lingkup pemanfaatan area kawasan;
  8. Memetakan Potensi pengembangan ekonomi Agrowisata.

Maksud Pekerjaan Perencanaan Penyusunan Road Map Alternatif Development Penanganan Narkoba Kabupaten Bireuen adalah :
  1. Memberikan Alternatif Penanganan Narkoba melalui pendekatan Pembangunan Ekonomi Secara Utuh, Sosial Budaya, Pelestarian lingkungan, keamanan, termasuk pendekatan karakter kawasan Kebangsaan
  2. Sebagai pendekatan integratif dalam menangani masalah perencanaan dan pengembangan potensi ekonomi Agrowisata.
  3. Panduan pemanfaatan produk alternatif pakan ternak dan penambahan ekonumi rumahan dan pengembangan pendapatan pembudidaya sektor  peternak atau perikanan dan keberlanjutan ekonomi. 
  4. Melakukan pendekatan analisis keberlanjutan usaha, perkembangan usaha dan kemitraan usahan baik secara individu maupun kelompok.
  5. Membuat gambar pemetaan komuditi dan komunitas perkebunan, peternakan dan agrowisata dalam area kawasan Alternatif Development.

Tujuan Pekerjaan Perencanaan Penyusunan Road Map Alternatif Development Penanganan Narkoba Kabupaten Bireuen adalah :
  1. Mengubah profesi penanaman ganja menjadi petani dalam produktivitas unggul;
  2. Mengetahui kelayakan, ketersediaan potensi kawasan dalam perencanaan sarana dan prasarana;
  3. Mengetahui ketersediaan bahan baku dan peningkatan pertumbuhan ekonomi petani, peternak, dan budidaya dari pengembangan potensi kawasan;
  4. Sebagai acuan bagi stekholder lainnya dalam mengintegrasikan kegiatan pengembangan dan pemanfaatan potensi kawasan Alternatif Development didalam dan luar Kabupaten Bireuen;
  5. Sebagai acuan pemerintah untuk mendorong peningkatan produkstivitas salah satunya dengan melakukan peningkatan SDM, pendidikan dan pelatihan tepatguna terhadap kelompok masyarakat kawasan Alternatif Development penanganan narkoba;
  6. Meningkatan kesejahteraan dan karakter budaya masyarakat, mandiri dan produktif;
  7. Sebagai acuan mengembangkan kawasan Agrowisata yang meningkatkan pendapatan masyarakat dan daerah;
  8. Sebagai upaya bagi pemerintah Kabupaten Bireuen yang bersinergi menuju kondisi yang diinginkan, seperti terpetanya kawasan rawan ganja,pembangunan Manusia dan Kebudayaan, pelestarian Hutan dan lingkungan hidup terutama pembangunan Ekonomi akan menjadikan pemuda yang tahan uji, berkarakter dan bermanfaat bagi nusa dan bangsa;
  9. Menghasilkan desain Program Alternatif Development Penanganan Narkoba di Kabupaten Bireuen. 
  10. Sebagai bahan pertimbangan pemerintah daerah dan pihak lainnya dalam mengambil keputusan penganggaran guna meningkatkan pendapatan taraf hidup.

3. Sasaran Kegiatan
     Adapun sasaran yang ingin dicapai dari perencanaan Penyusunan Road Map Alternatif Development Penanganan Narkoba Kabupaten Bireuen adalah tersusunya sebuah konsep dalam upaya pengembangan kawasan Agrowisata, produktifitas potensi masyarakat melalui kemitraan dan terwujutnya Alternatif Development Penanganan Narkoba yang komprehensif baik ditinjau dari aspek pencegahan hingga penanganan dalam lingkup wilayah Kabupaten Bireuen secara berkelanjutan.


4. Arah Pembangunan Kawasan
     Arah pembangunan kawasan sesuai dengan kebijakan Grand Design Alternative Development (GDAD 2016 -2025), arah kebijakan ini dalam jangka panjang diharapkan dapat mengubah kondisi permasalahan darurat Narkoba saat ini, terutama bila melihat kondisi gambaran produksi ganja di Provinsi Aceh, yangkian tak terkendali.
Visi pembangunan Kawasan yang akan dicapai sampai dengan tahun 2025 adalah sebagai Agrowisata di Kabupaten bireuen dan Daerah Tujuan Wisata dalam lingkungan Masyarakat yang Mandiri dan Sejahtera. Sebagai daerah pencontohan Grand Desing Alternative Development dalam mengentaskan penanggulangan Narkotika dan memiliki daya tarik tersendiri dengan tetap menjunjung tinggi nilai moralitas dengan Cagar Budaya, Tata Nilai Budaya dan Pendidikan Berbasis Budaya. 


Gambar 1.1 Arah Perkembangan Kawasan 





5. Kerangka Pikir
    Dalam upaya penanggulangan faktor-faktor penyalahgunaan narkoba khususnya ganja yang terus meningkat dikalangan remaja dan kalangan masyarakat, maka perlu dilakukan perubahan pola pikir penyalahgunaan narkoba. 





Gambar 1.2 Alur Road Map Alternatif Development Penanganan Narkoba



    Secara teknis keenam tahapan tersebut akan dikembang¬kan berdasarkan urutan yang sistematis. Pada tahap pengem¬bangan alternatif konsep, seleksi dan evaluasi alternatif serta pengembangan konsep terpilih maka aspek penunjang yang sangat penting akan menyangkut pertimbangan prinsip desain dan standar perencanaan yang sesuai dengan keadaan daerah perencanaan




Gambar 1.3 Kerangka Pikir Road Map Alternatif Development 


6. Teknis Pelaksanaan Penyusunan Road Map
        Pelaksanaan kajian Road Map Alternative Development Narkoba ini dibagi dalam 2 tahap: 
1. Kajian awal sebagai data kondisi 
  • Konsultasi dengan Dinas terkait antara lain : BNN, Dinas Pertanian Dinas Pendidikan Kabupaten, serta Bappeda Kabupaten dengan mengumpulkan data sekunder terkait potensi sumberdaya pertanian, peternakan dan sumberdaya pariwisata serta sumberdaya pendukung lainnya. 
  • Studi Pustaka (data sekunder) dan survei lapangan (data primer). 
  • Pemetaan sumberdaya. 


2. Kajian analisis strategi 
  • Melakukan survei lapangan berdasarkan pemetaan dan desain awal peta sumberdaya. 
  • Melakukan analisis strategi Road Map Alternativ Development, 
  • FGD untuk kapitalisasi dalam finalisasi hasil kajian. 
  • Diskusi kelompok (Tim Penyusun dan Narasumber). 
  • Seminar melibatkan instansi terkait, pakar, pelaku usaha dan perwakilan masyarakat. 

7. Pengertian Road Map Alternatif Development Penanganan Narkoba
    Roadmap  merupakan peta atau panduan yang di gunakan sebagai petunjuk arah alan. Roadmap adalah rencana rinci yang memuat tahapan sistematis mengenai pelaksanaan suatu program kegiatan dalam kurun wakttu tertentu. Dasar Kebijakan didalam Penyusunan Road Map Alternatif Development Penanganan Narkoba Kabupaten Bireuen pada prinsipnya mempunyai fungsi dan peranan yang sangat penting bagi masyarakat khususnya desa meunasah Bungong Kecamatan Peudada. Beberapa aspek dan kriteria juga sangat mendukung sehingga fungsi dan peranannya dapat bermanfaat bagi masyarakat Desa Meunasah Bungong Kecamatan Peudada Kabupaten Bireuen pada umumnya.

8. Pembangunan Kawasan Berkelanjutan
    Pembangunan kawasan berkelanjutan adalah pembangunan yang dapat didukung secara ekologis sekaligus layak secara ekonomi, juga adil secara etika dan sosial terhadap masyarakat. Artinya, pembangunan berkelanjutan adalah upaya terpadu dan terorganisasi untuk mengembangkan kualitas hidup dengan cara mengatur penyediaan, pengembangan, pemanfaatan dan pemeliharaan sumber daya secara berkelanjutan. 
        Pembangunan kawasan Alternatif Development yang berkelanjutan dapat dikenali melalui prinsip-prinsipnya yang dielaborasi berikut ini. Prinsip-prinsip tersebut antara lain: partisipasi, keikutsertaan para pelaku (stakeholder), kepemilikan lokal, penggunaan sumber daya secara berkelanjutan, mewadahi tujuan-tujuan masyarakat, perhatian terhadap daya dukung, monitoring dan evaluasi, akuntabilitas, pelatihan serta promosi.
        Agrowisata yang hendak dibangun dan dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dengan memperhatikan 3 (tiga) aspek yaitu Lingkungan, Sosial, dan Ekonomi yang disebut dengan Segitiga Pembangunan Pariwisata yang Berkelanjutan (The Sustainable Tourism Triangle), yang digambarkan seperti pada gambar berikut:

    


Gambar 1.4. Segitiga Pembangunan Kawasan Berkelanjutan

9. Kerangka Pemikiran Penyusunan Road Map Aternatif Development
        Dalam upaya penangulangan faktor-faktor penyalahgunaan narkoba khususnya ganja yang terus meningkat dikalangan remaja dan kalangan masyarakat, maka perlu dilakukan perubahan polapikir penyalahgunaan narkoba dengan cara remaja dan masyarakat lebih aktif berperan dalam kegiatan yang positif. 
        Jadi rencana  Penyusunan Road Map Alternatif Development Penanganan Narkoba Kabupaten Bireuen akan menghasilkan output yang berupa rencana pengembangan pembangunan tertentu secara terperinci yang dapat menjadi pedoman pelaksanaan pembangunan. Secara umum akan terdapat 6 (enam) tahapan kegiatan pokok dalam penyusu¬nan Road Map Alternatif Development Penanganan Narkoba Kabupaten Bireuen ini, yakni:
  • Tahapan kegiatan pendahuluan/pemahaman perencanaan.
  • Tahapan kegiatan penelaah lapangan dan pengumpu¬lan data.
  • Tahapan kompilasi data.
  • Tahapan analisis.
  • Tahapan penyusunan rencana.
  • Tahapan penyusunan yang disertai dengan rancangan pentahapan  pelaksanaan pembiayaan.

10. Desain Pembangunan Kawasan Agrowisata
    Penyusunan desain pembangunan agrowisata Kawasan diawali dengan mengkaji visi dan misi Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM).
 
Gambar 1.11  Desain Pembangunan Agrowisata





11. PETA STRATEGIS POTENSI WILAYAH
        Peta strategi pengembangan agrowisata KAWASAN disusun menggunakan pendekatan balance score card, terdiri dari 4 aspek yaitu growth and leaning, internal process, customer dan finansial. Secara ringkas peta strategi pengembangan agrowisata dirumuskan sebagai berikut: 

1. Pada aspek finansial sebagai upaya capaian pembangunan agrowisata adalah tercapainya kesejahteraan masyarakat yang didorong oleh pendapatan yang meningkat serta terjadinya pertumbuhan dan pemerataan penghasilan. Aspek finansial ini dapat tercapai jika kepuasan terhadap pelanggan (wisatawan) yaitu adanya produk dan jasa wisata yang memberikan nilai kepuasan yang tinggi kepada wisatawan serta meningkatkan nilai jasa lingkungan. 
2. Menghasilkan nilai tambah yang tinggi maka perlu didukung oleh proses produksi yang terbaik, dengan dukungan sarana dan prasarana yang mencukupi, terbangunnya kelembagaan produksi dan pengembangan pasar serta upaya inovasi dan peningkatan daya dukung lingkungan. Pelaksanaan pembangunan membutuhkan pembelajaran untuk mengembangkan pertumbuhan. 
3. Mendukung terselenggarannya dengan baik aspek proses internal maka dukungan pengembangan SDM yang trampil perlu terus dilakukan, dan bila perlu disiapkan secara by design, demikian pula dukungan sarana dan prasarana serta iklim usaha yang kondusif baik dalam bentuk kebijakan investasi maupun jaminan keamanan dan kebebasan berusaha sesuai hukum yang berlaku. 
4. Kegiatan pariwisata di Kawasan diharapkan melibatkan semaksimal mungkin masyarakat baik sebagi penyedia tenaga kerja maupun investasi dan kesempatan berusaha. Masyarakat dengan sumberdaya yang relatif terbatas dan kecil perlu membangunkan kegiatan bersama dalam skala usaha yang layak. Oleh karena itu upaya untuk membangun kelembagaan bisnis harus diawali dengan pengembangan kelembagaan produksi di tingkat masyarakat. Selain dari pada itu kelembagaan bisnis milik masyarakat perlu dukungan promosi untuk membangun “brand” bagi produk dan atau jasanya.

Pengembangan agrowisata harus berkelanjutan, mengingat perkembangan informasi dan teknologi serta budaya yang sangat cepat, maka keberlanjutannya akan ditentukan oleh kemampuan unit bisnis agrowisata untuk secara terus menerus melakukan inovasi dengan secara arif tetap mempertimbangkan kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan. Adapun peta strategi pengembangan agrowisata di kawasan dapat dilihat pada gambar  berikut ;



Gambar 1.12  Peta Strategis Pengembangan Kawasan Agrowisata



12. Analisis Swot
        Dalam menginterpretasikan wilayah perencanaan kawasan nantinya, diperlukan analisis untuk mengkaji kondisi kawasa yang sangat kompleks dimana faktor eksternal dan internal memegang   peran   yang   sama   pentingnya.   Analisis   yang   digunakan   adalah   analisis   SWOT.
           Analisis SWOT dapat digunakan untuk menetapkan tujuan secara lebih realistis dan efektif, serta merumuskan  strategi dengan efektif  pula. Dengan   berlandaskan  SWOT,   tujuan   tidak   akan menjadi terlalu rendah atau terlalu tinggi. Dengan analisis SWOT akan diketahui kekuatan dan kesempatan yang terbuka sebagai faktor positif dan kelemahan serta ancaman yang ada sebagai faktor negatif. Maka diperoleh semacam core strategy yang prinsipnya merupakan :

• Strategi yang memanfaatkan kekuatan dan kesempatan yang ada secara terbuka
• Strategi yang mengatasi ancaman yang ada
• Strategi yang memperbaiki kelemahan yang ada

Teknik SWOT terbagi menjadi empat faktor yaitu:
  1.  Strength (faktor internal) => Membahas tentang kekuatan atau potensi yang  dimiliki  oleh  tiap sektor yang dikembangkan yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan kawasan.
  2. Weakness (faktor internal) => Membahas tentang kelemahan atau masalah-masalah yang dihadapi oleh sektor yang dikembangkan  sehingga  menghambat  pembangunan  dan  pengembangan   dari  potensi  yang dimiliki di suatu wilayah
  3. Opportunity (faktor eksternal) = > Membahas tentang  kesempatan  atau peluang  yang  dimiliki  oleh sektor   yang dikembangkan di kawasan untuk pemanfaatan dan pengembangan potensi sector dengan terlebih dahulu mengatasi masalah  yang  dimiliki  oleh   sektor  yang ingin dikembangkan tersebut.
  4. Threat (faktor eksternal) => Berupa ancaman atau hambatan yang dimiliki oleh sektor yang dikembangkan di kawasan  jika masalah yang dihadapi pada sektor tersebut tidak dapat diatasi.

13. Rekomendasi

    Berdasarkan kajian dan analisis, Visi dan misi pembangunan RPJP dan RPJM Kawasan, mengarahkan industri pariwisata sebagai salah satu sektor strategis, dan agrowisata menjadi hal yang perlu dikembangkan untuk mendukung visi dan misi tersebut. Pembangunan agrowisata merupakan bagian integral dari sistem pembangunan pariwisata dan pembangunan kawasan secara umum, karena itu perlu diintegrasikan dan disinkronisasikan pola dan sistem pengembangannya. Prioritas pengembangan mengacu pada potensi pertanian yang khas dipadukan potensi jalur tujuan wisata - wisata yang telah berkembang. Daerah Kawasan Alternative Development Penanganan Narkoba merupakan tujuan wisata utama wisata domestik berbasis pendidikan dan budaya untuk wilayah Kabupaten Bireuen,  Maka disusun rekomendasi sebagai berikut : 
  1. Pengembangan agrowisata diarahkan dan diprioritaskan pada pengembangan kluster-kluster potensi pertanian yang unik, baik karena kualitas produk, jenis produk, maupun layanan jasa produk berbasis pertanian, dan diarahkan mengikuti peta jalur dan destinasi wisata yang telah berkembang. 
  2. Pemerintah perlu mengembangan agrowisata berskala besar khusus bidang pendidikan berbasis pertanian dalam arti luas (pertanian pangan, hortikultura, perkebunan, perikanan, peternakan) yang menjadi tujuan wisata pendidikan, pelatihan dan kebun percontohan pertanian maju dan modern seperti model taman pintar tapi khusus pertanian. Untuk pengembangannya membutuhkan dana yang besar maka diperlukan kerjasama dengan empat pihak yaitu pemerintah, swasta, lembaga pendidikan dan masyarakat. 
  3. Dengan tersusunnya peta jalan (roadmap) maka dapat dilakukan penyusunan program dan kegiatan dengan mengacu pada peta jalan (road map) dan RPJM Kabupaten yang telah disusun secara konsisten dan berkelanjutan. 
  4. Pelaksanaan program dan kegiatan harus fokus dan bersifat tahun jamak (multi years) dengan tingkat fasilitasi pemerintah yang semakin menurun setelah berlangsung 5 tahun kedepan. 

1. SUMBER AIR
  • Embung
  • Kolam




2. KOMUNITI JAGUNG



3. KOMUNITI PISANG



4. KOMUNITI KACANG




5. KOMUNITI PEPAYA/ KATES





6. JALAN AKSES
  • Jalan masuk





Menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB)

 Menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB)




RAB adalah rencana anggaran biaya suatu kontruksi yang direncanakan sebelum kontruksi dibangun, tujuannya untuk mengetahui apa saja kebutuhan material pada tiap - tiap item pekerjaan dan berapa biaya jasa atau upah untuk setiap item pekerjaan. biasanya RAB disandingkan dengan Skedul pelaksanaan dengan tujuan untuk menimalisir waktu dalam proses pelaksanaan, dan tahapan dalam setiap pelaksanaan pembangunan kontruksi. jadi tidak ada istilah keterlambatan dalam pelaksanaan pekerjaan.

Didalam RAB terdapat harga satuan bahan/material dan upah untuk tukang dan pekerja. Item pekerjaan akan diurai didalam RAB, misalnya pembangunan rumah duafha dengan luas atau type 36. Dimuail dari item persiapan, seperti pembersihan lahan, pengukuran dan pemasangan Bouplank. item pondasi dilanjutkan dengan pekerjaan galian, urugan pasir (lantai kerja), beton cyclope atau pasangan batu, pembesian tapak/ ampak serta urugan tanah kembali.

Serta untuk item dinding, mulai dari pekerjaan pasangan batu bata, plasteran 1pc:2ps, plasteran 1pc:4ps, serta pekerjaan kusen, daun pintu, jendela dan pekerjaan pengecetan dinding dan kayu, serta istalasi kabel listrik.

Item pekerjaan struktur dimulai dari pekerjaan pondasi (khusus pondasi tapak), sloof, balok dan ringbalok/ top level.

Item lantai dimulai dari urugan tanah dalam ruangan, urugan pasir, cor lantai dan pemasangan penutup lantai.

item atap, dimulai dari pekerjaan pemasangan rangka atap, penutup atap serta plafon dan instalasi lampu.

item sanitasi dan pembersihan akhir, yaitu pekerjaan finishing. biasanya dikerjakan setelah siap kamar mandi dan wc. selanjunya dilanjutkan dengan perpipaan air bersih dan air kotor serta tempat penampungan kotoran atau septitank.

pembersihan akhir bertujuan untuk merapikan kontruksi siap bangun sebelum ditempati atau serah terima dengan pemilik. seperti untuk item pekerjaan pengecatan, pemasangan kunci dan kelistrikan.

sekian dan terimakasi. selamat mempraktekkan...


Contoh: Gambar Rumah duahfa type 36


Contoh: RAB (Rencana Anggaran Biaya) Rumah Type 36





Link :
https://ragamcerita123.blogspot.com





Action Plan Pengembangan Industri Pakan Ternak dan Pakan Ikan (Executive Summary)

 

Action Plan Pengembangan Industri Pakan Ternak dan Pakan Ikan
(Executive Summary)




1. Latar Belakang
Salah satu tujuan Pengembangan Industri pakan ternak dan pakan ikan adalah meningkatkan produksi dan produktivitas usaha peternakan dan perikanan yang di tandai dengan meningkatnya sektor peternakan dan perikanan terhadap pertumbuhan ekonomi, meningkatnya kapasitas sentral produksi peternakan dan perikanan yang memiliki komoditas unggulan, serta meningkatnya pendapatan para petani peternak dan penambak yang berusaha di sektor peternakan dan perikanan budidaya.
  • Dalam rangka meningkatkan produksi dan produktivitas para petani peternak dan penambak di Kabupaten Bireuen, perlu didukung dengan penyediaan sarana dan prasarana yang memadai. Salah satu Sarana sangat penting adalah tersedianya pakan untuk komoditi para peternak dan para penambak ikan. Masyarakat khususnya para petani peternak dan penambak pembudidaya ikan dihadapkan pada kendala kurangnya ketersediaan sumber pakan ternak dan pakan ikan dan lamanya ketersediaan kebutuhan pasokan pakan olahan. 
  • Kondisi penututupan usaha bagi para peternak dan penambak skala kecil, akibat kurangnya suntikan dana untuk pembelian pakan, dan kurangnya pengetahuan dalam usaha peternakan dan perikanan.
  • Usaha yang dijalankan secara mandiri dan tidak secara komonitas atau kelompok. Mengakibatkan kurangnya pengetahuan mendasar cara pembibitan, pencegahan penyakit dan mempercepat proses produksi.

2. Maksud dan Tujuan 
Pelaksanaan Kegiatan Penyusunan Rencana Pengembangan Industri Pakan Ternak dan Pakan Ikan Kabupaten ini  dimaksudkan  untuk  menghasilkan suatu  dokumen  rencana penyelenggaraan pengembangan peternakan dan perikanan  kawasan  permukiman  yang diselenggarakan sebagai aksi keberlanjutan antar pemangku kepentingan dan pendampingan pemerintah Kabupaten/Kota. Selain itu dimaksudkan untuk mengetahui perkembangan suatu kawasan yang mencakup aspek hukum, teknis, pembiayaan, pengembangan dan pemanfaatannya.

Maksud Pekerjaan Penyusunan Dokumen Action Plan Pengembangan Industri Pakan Ternak dan Pakan Ikan adalah :
  • Panduan pemamfaatan peningkatan peternakan dan perikanan, pengembangan potensi industri dan keberlanjutan ekonomi Kabupaten Bireuen secara umum.
  • Melakukan perhitungan rencana anggaran biaya yang dibutuhkan untuk Penyusunan Dokumen Action Plan Pengembangan Industri Pakan Ternak dan Pakan Ikan.
  • Membuat gambar pemetaan komoditi dan komunitas kondisi Peternak dan Perikanan budidaya tambak Kabupaten.


Tujuan Pekerjaan Penyusunan Dokumen Action Plan Pengembangan Industri Pakan Ternak dan Pakan Ikan adalah :
  1. Mengetahui kelayakan, peningkatan dan pertumbuhan ekonomi petani ternak dan perikanan dari pengembangan industri pakan.
  2. Sebagai acuan bagi stakeholder lainya dalam mengintegrasikan kegiatan pengembangan dan pemamfaatan potensi peternakan dan perikanan di Kabupaten.
  3. Sebagai acuan peningkatan ketersediaan pangan dari hasil produksi peternakan dan perikanan.
  4. Sebagai bahan pertimbangan pemerintah daerah dan pihak lainya dalam mengambil keputusan penganggaran guna meningkatkan pendapatan taraf hidup para petani ternak dan petani perikanan budidaya.




3. Permasalahan Dasar Dan Solusi
Selama ini yang terjadi dilapangan adalah terbatasnnya produksi untuk mendukung penyediaan pakan secara lebih intensif dapat diindikasikan oleh beberapa hal, diantaranya:
  1. Tidak dimaksimalkan ketersedian lahan yang ada sebagai sumber pakan, peternak mengambil pakan dari tanaman liar, pinggiran hutan, pematang sawah, dipinggir jalan, limbah pertanian yang bersifat musiman.
  2. Alih fungsi lahan terjadi terus menerus sepanjang tahun, akibatnya sumber pakan juga menurun.
  3. Kurangnya pengetahuan peternak mengenai teknologi pengolahan dan penyimpanan   pakan serta tidak tersedianya alat dan bahan pendukung untuk itu.
  4. Tidak ada tindak lanjut maupun pendampingan dari penyuluh maupun peserta pelatihan keluar daerah setibanya kembali ke Kabupaten Bireuen.
  5. Keterbatasan dana yang dimiliki peternak.
  6. Harga bahan pendamping/campuran yang tidak sesuai secara ekonomis untuk produksi bahan pakan ikan. (Dalam action plan ini hanya akan membahas potensi pengembangan pakan ternak mamalia dan unggas saja)
  7. Produksi pakan pada umumnya dilakukan oleh peternak kecil (small holders), minim keterampilan dan penguasaan teknologi

4.    Kelembagaan kelompok 
Kelembagaan kelompok peternak belum menunjukkan manfaat ekonomi yang nyata untuk anggotanya dengan beberapa indikasi seperti:
  • Kelembagaan peternak belum kuat dan mandiri
  • Kelompok tidak/belum berperan dalam menjalin kerjasama dengan pihak lain baik dalam aspek produksi, permodalan maupun pemasaran.
  • Akses kelompok untuk mendapat fasilitas modal ke pihak perbankan belum ada antara lain terkendala tidak adanya agunan.
  • Belum ada inisiatif dan peran pengurus untuk meningkatkan peran kelompok dalam aktifitas yang mengarah kepada meningkatnya kesejahteraan anggotanya.

5. Analisis SWOT Pakan Ternak
Analisis SWOT pada prinsipnya adalah analisis faktor-faktor lingkungan internal dan eksternal, yang terdiri atas faktor-faktor kekuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang (opportunity), dan ancaman (threats). 

A.    Kekuatan
  • Memiliki tanah yang tergolong subur sehingga sebagian besar daerah Kabupaten  digunakan sebagai lahan pertanian/perkebunan yang dapat ditanami tumbuhan bahan paku pakan ternak.
  • Adanya usaha produksi pakan ternak yang sudah berjalan baik milik Pemda, pribadi maupun kelompok
  • Adanya dukungan Pemda kepada peternak walaupun masih belum maksimal.

B.     Kelemahan
  • Kualitas SDM  yang masih kurang, dimana banyak peternak masih memberi pakan ternaknya secara tradisional, yaitu dengan melepas ternak ke alam.
  • Tidak semua peternak masuk dalam kelompok ternak, namun menjalankan usaha ternak mereka secara perorangan
  • Kurangnya kempuan dalam mengembangkan usaha, dimana usaha ternak hanya   menjadi usaha sampinagn saja, tidak dilakukan secara serius
  • Banyaknya komoditi bahan pakan ternak alternatif di Kabupaten  yang terbengkalai akibat ketidak tahuan cara pengelohannya.
  • Banyak masyarakat petrnak yang masih belum mengenal teknologi mesin produksi   pakan.
  • Masih bergantung kepada bahan pakan pabrikan dari luar daerah seperti Medan dan Sumatra Utara

C.    Peluang
  • Pertumbuhan peternak yang terus meningkat
  • Banyaknya lahan yang luas begitu besar menjadi suatu hal yang sangat  mendukung untuk pengembangan potensi budidaya tanaman sumber pakan ternak.
  • Memiliki komoditi unggulan disektor pertanian.
  • Faktor geografis. Letak Kabupaten sangat strategis untuk memasarka produksi pakan ternak keluar daerah.
  • Adanya penyuluh perternakan/pertanian yang sudah diutus oleh Pemerintah daerah yang siap mendampingi peternak.

D.  Ancaman
  • Bencana alam, dimana perubahan iklim merupakan salah satu ancaman bagi masyarakat Bireuen yang berkerja sebagai peternak yang memproduksi pakan ternak.
  • Masuknya produk asing, Banyaknya produk pakan ternak dari luar daerah yang masuk ke Aceh pada umumnya merupakan tantangan yang harus di hadapi masyarakat dengan upaya bagaimana menarik minat konsumen pada produk lokal.
  • Stabilitas keamanan (konflik senjata). Aceh merupakan salah satu daerah yang   pernah mengalami gejolak konflik bersenjata. Hal ini merupakan tantangan bagi masyarakat agar lebih menjaga keamanan bersama dan tidak terikut dengan isu-isu yang tidak bertanggung jawab.
  • Perubahan kebijakan Pemerintah Daerah. Baik regulasi maupun komitmen awal bagi perkembangan usaha produksi pakan.

6. Potensi Pengembangan
Secara garis besar, pengembangan industri pakan di Kabupaten sangat bergantung pada beberpa faktor, diantaranya:
  1. Sumber daya manusia, baik peternak, aparatur pemerintah khususnya dinas peternakan, lembaga-lembaga penelitian, perguruan tinggi dan swasta. Jika semuanya dapat bekerjasama dan saling mendukung pada satu tujuan dan visi akan mendorong pengembangan industri pakan bagi peternakan.
  2. Sumber daya fisik seperti tersedianya lahan bagi program penanaman sumber bahan baku.
  • Memaksimalkan lahan perkebunan rakyat yang tidak produktif untuk ditanami berbagai jenis tanaman bahan baku pakan (Murbei, Indigofera, Insulin, rumput gajah, ubi dan lain-lain)
  • Menetapkan lahan-lahan yang yang diperuntukan khusus untuk tanaman pakan dan tidak untuk ditanami tumbuhan lain kecuali pada masa peralihan saat panen dan tumbuh baru.
  • Teknologi tepat guna seperti pengadaan mesin pengolahan (mesin penghancur, mesin pencampur/mixer, mesin pelet dan lain-lain.
  • Pemberdayaan masyarakat (community empowerment) dengan melibatkan sumber daya yang ada dalam melakukan pelatihan dan pengetahuan, baik dalam bentuk seminar maupun praktek langsung.
  • Memberikan penyuluhan, seminar dan transfer ilmu lainnya dari para pakar yang ahli di bidang proses produksi pakan ternak kepada para peternak maupun kelompok ternak.
  • Kemampuan pendanaan, dimana program ini harus memiliki sumber dana yang jelas dan mencukupi. Dana ini dapat bersumber dari Pemkab, perbankan, lembaga keuangan mikro, koperasi dan lain sebagainya.
Pemerintah daerah, swasta dan lembaga lainnya (contoh: CSR perusahaan besar) diharapkan dapat membantu kelompok ternak/peternak dengan bantuan dana awal untuk pembelian bibit tanaman pakan ternak serta mesin-mesin yang diperlukan dalam proses pembuatan pakan.


7. Populasi  Ternak
Menurut data Dinas Peternakan Kabupaten Bireuen 2018, jumlah ternak  jenis Mamalia sekitar 119.264 ekor, serta ternak unggas berjumlah 753.060 ekor. Jumlah ini merupakan jumlah yang besar bagi konsumsi pakan yang harus disediakan. 


8. Lahan Sumber Pakan
Usaha masyarakat sebagian besar tersebar dibeberapa wilayah, diantaranya Kecamatan Peudada, Kecamatan Juli, Kecamatan Jeumpa, Kecamatan Peusangan, Kecamatan Makmur dan lain-lain. Wilayah beberapa kecamatan tersebut banyak digunakan masyarakat untuk beternak/bertani dan tambak karena menyediakan lahan yang luas dan relatif jauh dari pemukiman warga. Jadi tidak diragukan lagi, Bireuen sangat mendukung bagi ketersedian lahan untuk tanaman-tanaman sebagai sumber bahan pakan ternak. Lahan yang tersedia ini dapat ditanami berbagai jenis tanaman bahan pakan ternak. Tanaman yang populer saat ini seperti Murbei, Indigofera, Insulin, rumput gajah, ubi dan lain-lain merupakan jenis tanaman yang dapat hidup disegala kondisi tanah dan lingkungan. Selain praktis dalam pemeliharaan, tanaman-tanaman ini dikenal menghasilkan nilai gizi dan protein yang tinggi bagi kebutuhan perkembangan ternak.

9. Analisa Kebutuhan Pakan
Untuk kebutuhan Ternak Kambing adalah 1,5 Kg/ ekor/ hari
Untuk kelompok ternak kecil dengan populasi kambing rata-rata 30 ekor, kebutuhan pakan ternak kambing adalah 30 ekor x 1,5kg = 45 kg/hari
Untuk Lembu Jumlah Pakan yang idial adalah dilihat dari Berat Badan Lembu itu Sendiri yaitu: 
2 s/d 2,5% X Berat Lembu.

Dari hasil kondisi nyata dilapangan, untuk Kapasitas Pabrik Mini bisa memproduksi 5 ton/hari, yang memiliki perkiraan rata-rata harga produksi sekitar Rp. 1.800/kg
Contoh kandungan protein dari beberapa bahan baku pakan ternak alternatif:
- Indigofera 40 %     = 12 %

- Pelepah Kelapa/sawit 40 %     = 2,8 %

- Bungkil Kelapa 10 %     = 2,3 %

- Dedak 10 %      = 1,3 %

Tingkat Protein Mencapai ± 18 % dari Protein Normal 12 s/d 14 % aman untuk ternak dan di kosumsi manusia (Hasil uji Laboratorium)



10.    Gap Antara Kondisi Saat Ini dan Kondisi Ideal
        Dari  hasil  Forum Discusstion Group (FGD) yang telah dilaksanakan terlihat beberapa kondisi saat ini yang dialami peternak, dapat dijelaskan sebagai berikut :
  1. Peternak mamalia dan unggas terdiri dari dua model sumber pakan, ada yang dikandangkan dengan disediakan pakan oleh peternak dan ada juga yang dilepas begitu saja mencari makanan sendiri dari apa0apa yang terdapat di alam sekitar mereka tinggal.
  2. Para peternak lokal memelihara ternak bukan semata untuk tujuan bisnis akan tetapi ada juga yang bersifat hanya sebagai usaha sampingan.
  3. Sistem pemeliharaan banyak yang dilakukan secara tradisional yaitu ternak dibiarakan mencari makanan sendiri.
  4. Pakan  yang diberikan pakan tidak berdasarkan kebutuhan nutrisi dan gizi ternak.
  5. Jika ada peternak yang memproduksi pakan sendiri terbatas padakelompok-kelompok tertentu yang ada akses dengan pemerintah dalam hal penyuluhan, namun juga memiliki kendala dalam hal pengadaan sumber bahan baku.
  6. Modal produksi pakan yang terbatas mengakibatkan pemeliharaan ternak lokalmasih berskala rumah tangga atau kurang dalam hal berorientasi bisnis.
  7. Terbatasnya pengetahuan peternak mengenai jenis sumber tanaman buat pakat dan teknologi pengolahan pakan.
  8. Kurangnya promosi tentang lokasi dan peternak yang sudah memproduksi pakan di Kab. Bireuen.
  9. Kurangnya kapasitas produksi dari produksi yang sudah ada saat ini.
  10. Kondisi saat ini dilapangan Pabrik yang sudah ada tidak dimanfaatkan.
  11. Peternak belum menggunakan Pakan Mandiri yang diproduksi oleh pabrik pakan yang ada di Kab. Bireun.
  12. Belum adanya ajakan dan pemanfaatan pakan mandiri yang dihasilkan oleh prabrik lokal untuk digunakan oleh Kelompok Peternak.

Kondisi ideal yang diharapkan dalam manajemen produksi pakan ternak di Kabupaten Bireuen adalah sebagai berikut :
  1. Peternak Bireuen  dengan didukung Pemda idealnya memproduksi pakan sendiri dan tidak bergantung dari pakan luar daerah yang harganya tidak ekonomis.
  2. Adanya  pusat  produksi pakan percontohan, baik milik Pemerintah Daerah maupun kelompok ternak yang ditunjuk, sehingga peternak lain dapat mencari informasi dan pengetahuan baru terkait cara memproduksi pakan ternak yang baik.
  3. Melakukan riset dan memaksimalkan penggunaan bahan lokal.
  4. Tersedianya lahan dan kawasan untuk penanaman tanaman sumber pakan.
  5. Sistem produksi pakan dilakukan secara intensif dengan kontrol yang baik, bisa dengan membentuk MOU/ perjanjian kerja dengan kelompok kerja/ pengawas/ konsultan dan pihak ketiga lainnya guna pemeliharaan rantai produksi yang tidak terputus dan pemantauan harga dipasaran.
  6. Promosi dan sistim jemput bola dalam hal pemasaran dan penjualan pakan dari pabrik kepada peternak, baik di Bireuen maupun luar Bireuen
  7. Memberikan  akses permodalan  yang mudah dan murah bagi peternak yang memproduksi pakan.


11.     Jenis Sumber Bahan Baku Pakan
         Beberapa contoh makanan ternak yang akhir-akhir ini sering dijadikan sebagai sumber pakan dapat dilihat seperti tabel dibawah ini:

No Jenis/Nama Bahan Gambar/foto
1 Tanaman Indigofera




2      Tanaman Murbei



  3 Tanaman insulin


4 Tongkol jagung

5 Ubi/singkong




6 Pelepah kelapa sawit




7 Bungkil kelapa





12. Tujuan dan Strategi Pengembangan
      Pengembangan industri pakan ternak bertujuan meningkatkan produksi dan produktivitas pakan bagi para peternak dengan nilai yang ekonomis dan tersedia sepanjang waktu tanpa harus bergantung kepada musim dan cuaca, juga untuk memberikan manfaat secara ekonomi, sosial dan lingkungan masyarakat Kabupaten Bireuen. Strategi pengembangan pakan ternak di Kabupaten Bireuen akan dilakukan  berfokus kepada  mensinergikan berbagai potensi internal dan eksternal dengan tujuan meningkatkan produktifitas pakan ternak. 

13. Pengembangan Infrastruktur Dan Sarana Pendukung
            Untuk mencapai suatu tujuan pengembangan infrastruktur dan sarana pendukung perlu dilakukan beberapa hal yaitu :
  • Memaksimalkan pabrik dan mesin produksi milik Pemerintah Daerah Bireuen di Kecamatan Gandapura (Geurugok)
  • Memaksimalkan pabrik dan mesin produksi milik beberapa kelompok ternak.
  • Secara kuantitatif sarana pendukung pengembangan produksi pakan ternak di Kabupaten Bireuen perlu ditingkatkan, seperti penyediaan lahan, mesin dan penyuluhan bagi para peternak dan kelompok ternak.
  • Pakan ternak sangat tergantung dari bahan baku dilapangan yang kualitas dan kuantitasnya tergantung musim. Diperlukan areal tertentu sebagai pusat produksi tanaman sumber bahan baku pakan yang didukung pengadaan lahan untuk menjamin ketersediaan bahan baku sepanjang tahun.
  • Tersedianya bibit unggul tanaman serta melakukan penanaman tumbuhan yang direkomendasi oleh para penyuluh seperti Indigofera, murbei, kelor, insulin dan lain sebagainya di areal persawahan, kebun dan disemua tempat yang memungkinkan untuk itu.
  • Menata dan membangun fasilitas produksi yang memadai seperti lokasi pabrik dan penyimpanan pakan hasil produksi.

14. Pengembangan Pasar dan Perdagangan
            Untuk lebih menggairahkan motivasi peternak memproduksi pakan dan menjamin harga yang stabil dan berpihak kepada peternak, perlu dilakukan beberapa langkah seperti berikut:
  • Pemerintah membuat Perda mengenai standarisasi pakan ternak yang diproduksi masyarakat.
  • Pemberian modal/dana cadangan kepada kelompok untuk mengikat peternak dalam memproduksi pakan ternak. 
  • Mempromosikan peluang investasi kepada pemodal kecil atau besar serta pribadi untuk berinvestasi dalam usaha produksi pakan ternak, dengan sistim bagi hasil yang menguntungkan kedua belah pihak.
  • Mempromosikan penjualan pakan ternak kepada daerah lain diluar Kabupaten Bireuen, terutama pada hari-hari yang dikenal sebagai hari pasar hewan.

15. Pengembangan dan Pembinaan Sumber Daya Manusia
        Pengertian Pembinaan secara umum diartikan sebagai usaha untuk memberi pengarahan dan bimbingan guna mencapai suatu tujuan tertentu. Pengembangan sumber daya manusia perlu dilakukan secara terencana dan berkesinambungan. Agar pengembangan dapat dilaksanakan dengan baik, harus lebih dahulu ditetapkan suatu program pengembangan sumber daya manusia. Adapun Tujuan pengembangan dan pembinaan sumber daya manusia adalah untuk :
  1. Memberikan pemahaman kepada seluruh peternak dan kelompok ternak yang bertujuan menyamakan misi dan tujuan memproduksi pakan serta tujuan beternak dari usaha sampingan menjadi bisnis (profit oriented).
  2. Meningkakan pengetahuan peternak mengenai tata kelola produksi pakan ternak dan pengolahan pakan ternak dengan bahan baku lokal serta limbah pertanian yang tersedia di Bireuen.
  3. Pemberdayaan kelompok melalui peningkatan perannya didalam mengelola kelompok yang mengarah kepada terbentuknya koperasi kelompok ternak.
  4. Meningkatkan kapasitas dan produktifitas pakan ternak 
  5. Menumbuhkan jiwa entrepreneurship kepada pengurus kelompok, perencanaan usaha dan cara akses ke pemodal atau pengusaha dan kredit perbankan
  6. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peternak dalam memproduksi pakan 
  7. Mengirim pengurus atau wakil kelompok untuk magang di perusahaan maupun seminar tentang produksi pakan yang sehat dan bernutrisi.
  8. Melibatkan Dinas Pertanian dan peternakan, akademisi kampus Almuslim Bireuen untuk pengembangan dan pembinaan SDM dan sumber daya peternakan.
  9. Membentuk organisasi/lembaga khusus untuk menjalankan dan mendampingi kelompok ataupun peternak yang memproduksi pakan.

16. Pembiayaan dan Peluang Investasi.
      Berdasarkan(www.sinarharapan.co.id/ekonomi/eureka/2003/021/eur1.html) menyatakan bahwa alasan melakukan investasi adalah sebagai berikut:
  1. Produktivitas seseorang yang terus mengalami penurunan.
  2. Tidak menentunya lingkungan perekonomian sehingga memungkinkan suatu saat penghasilan jauh lebih kecil dari pengeluaran.
  3. Kebutuhan-kebutuhan yang cenderung mengalami peningkatan.
Biaya yang diperlukan dalam pengembangan produksi pakan ternak Kabupaten Bireuen antara lain adalah :
a. Infrastruktur dan sarana prasarana
  • Pembuatan pabrik dan lokasi produksi pakan
  • Membangun gudang penyimpanan bahan dan alat pengolahan pakan.
  • Pembelian mesin-mesin pendukung produksi pakan.
  • Pembelian alat transportasi
b. Organisasi
  • Gaji/honor tim pelaksana (tenaga ahli, tenaga pendamping, penyuluh)
  • Perlengkapan administrasi dan peralatan (ATK, sepeda motor, komputer, dll)
  • Biaya operasional rutin organisasi
  • Biaya pelatihan (Honor tenaga ahli/fasilitator, konsumsi dan transportasi peserta, bahan dan alat peraga pelatihan, bahan dan alat praktik)
  • Biaya studi banding dan magang ke perusahaan pakan peternakan yang sudah maju

17. Perhitungan Kebutuhan Modal dan Bahan Baku
        Sebagai rekomendasi yang didapat dari hasil Focus Group Discussion dengan beberapa pihak terkait, menghasilkan rekomendasi produksi pakan yang mencukupi nutrisi ternak dengan menggunakan bahan baku yang mudah didapat serta dikembangkan di Kabupaten Bireuen, yaitu yang bersumber dari batang dan daun Indigofera, pelepah sawit, bungkil kelapa dan dedak. Perhitungan yang diuraikan dibawah adalah mengabaikan pengeluaran biaya-biaya yang disebutkan dalam Sub Bab 6.1.4 Pembiayaan dan Peluang Investasi, namun hanya biaya yang dikeluarkan dan dihasilkan pada proses produksi saja.
Contoh komposisi pakan dalam 100 kilogram bahan baku:
- Indigofera 40 %          = 40 kg
- Pelepah Kelapa/sawit 40 % = 40 kg
- Bungkil Kelapa 10 % = 10 kg
- Dedak 10 %          = 10 kg
Biaya
Pembelian Indigofera 30 kg x @Rp. 2.000/Kg     = Rp.60.000
Pembelian Pelepah Kelapa/sawit 40 kg x @Rp.100/Kg         = Rp.  4.000
Ampas singkong       10 kg x @Rp.   200/kg         = Rp.   2.000
Pembelian Bungkil Kelapa 10 kg x @Rp.   3.500/Kg   = Rp. 35.000
Pembelian Dedak     10 kg x @Rp. 3.000/Kg         = Rp.30.000
Tenaga Kerja 1 orang      1 hari x Rp. 50.000            = Rp.50.000
Total biaya produksi 100 kg pakan                Rp.181.000

Untuk pakan ternak dari kota Medan harganya adalah Rp. 4.000,-/kg, jika para peternak memproduksi sendiri dengan biaya produksi perkilogram hanya Rp. 1.800/kg, para peternak akan menghemat biaya sekitar Rp.2.200/kg
Keuntungan Pakan produksi sendiri (perkilogram):
Keuntungan = Harga pakan jadi – biaya produksi sendiri
                =Rp. 4.000 – Rp. 1.800
                =Rp. 2.200
Untuk kebutuhan lokal, pakan produksi Bireuen akan dijual dengan harga sekitar Rp. 2.500/kg
Break Event Point (BEP)
Break Even Poin merupakan suatu kondisi perusahaan tidak mendapat ke untungan dan tidak pula mengalami kerugian. Diantaranya 

a. BEP Produksi dapat dihitung dengan persamaan;
 

BEP Produksi = Rp. 181.000
          Rp.    2.500

        =72,4 Kg

b. BEP Harga dapat dihitung dengan persamaan;
 

BEP Harga = Rp. 181.000
  73
           = Rp.    2.479/kg



18. Rencana kawasan dan pola Ruang
        Kriteria Lokasi :
  1. Kondisi disesuaikan untuk pengembangan kawasan produksi pakan.
  2. Lokasi memiliki potensi untuk dikembangkan, dilihat dari aspek teknis, sosial dan ekonomi masyarakat setempat
  3. Daerah/lokasi pengembangan kawasan produksi pakan berada pada kawasan produksi   atau yang  diarahkan untuk pengembangan kawasan produksi dan industri.
  4. Kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan/sentra pengembangan usaha produksi pakan tidak menyalahi dan dengan mempertimbangkan Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) Kabupaten Bireuen).
  5. Kawasan yang direkomendasi pertama adalah Kawasan Industri Bireuen (KIB) di daerah Cot Bate Geulungku, Kecamatan Pandrah, Bireuen.
  6. Kawasan yang direkomendasi kedua adalah Sekolah Peternakan di Geurugok, Kecamatan Gandapura, Bireuen, dimana sekolah tersebut telah memiliki dan beroperasi mesin produksi pakan ternak. 
  7. Kawasan mempunyai daya  dukung  infrastruktur yang dapat mendukung berkembangnya usaha produksi pakan dalam kawasan, di samping itu juga tersedia data  dan  informasi  yang  lengkap  mengenai  profil  perkebunan dan sumber bahan pakan lainnya didaerah tersebut.

19. Kesimpulan
    Pengembangan produksi pakan ternak yang akan dilaksanakan di Kabupaten Bireuen akan memberikan dampak positip yang luas yaitu:
  1. Pengembangan produksi pakan ternak yang akan dilaksanakan di Kabupaten Bireuen akan memberikan dampak tidak hanya terhadap peningkatan populasi dan kualitas ternak yang sehat tetapi juga akan meningkatkan pendapatan peternak
  2. Pakan yang dihasilkan akan memenuhi kebutuhan pakan ternak untuk peternak lokal, bahkan mampu untuk dijual diluar wilayah Kabupaten Bireuen.
  3. Kelompok ternak yang tergabung kelompok produksi pakan akan menjadi modal sosial yang sangat penting untuk mendukung program swasembada ternak lokal.
  4. Suksesnya program pengembangan produksi pakan ternak akan membuka peluang yang sangat strategis sebagai lapangan kerja, sumber pendapatan peternak/petani, pedagang dan pada akhirnya akan meningkatkan PAD.
  5. Untuk keberhasilan program ini diperlukan dukungan oleh tidak saja peternak atau kelompok yang terlibat langsung tetapi juga Pemda Kabupaten Bireuen, Dinas Terkait, Lembaga Penelitian, Perguruan Tinggi dan praktisi serta pebisnis ternak baik ternak mamalia, unggas dan ikan.

20. Rekomendasi
    Rencana aksi adalah rencana kegiatan sebagai penjabaran strategy pengembangan. Rencana aksi dan ketentuan pengeloalan pengembangan produksi pakan ternak Kabupaten Bireuen adalah sebagai berikut:
  1. Pembentukan tim pelaksana profesional kelompok produksi Pabrik Geurugok, Kecamatan Gandapura
  • Rekruitmen manager, tenaga pendamping
  • Penentuan kelompok ternak produksi pakan, site visit dan pengumpulan data base dilakukan bekerja sama dengan Fakultas Peternakan Universitas Al Muslim, Bireuen.
  • Melakuakn survey lokasi, sumber bahan baku, potensi pakan, jumlah anggota kelompok, kondisi kandang dan fasilitasnya.
  • Pengumpulan data dasar jumlah ternak perorangan dan kelompok (jumlah, status kepemilikan, dll)
  • Pembentukan dan pengukuhan pengurus dan Kelembagaan Kelompok
  • Penyusunan rencana kerja kelompok didampingi oleh tenaga pendamping
  • Pengadaan alat transportasi untuk petugas pelaksana
2. Pembangunan gudang/pabrik tempat proses pembuatan pakan dan gudang penyimpanan

3. Intensifikasi  tata  kelola  pelaksana produksi pakan ternak yangberorientasi bisnis (profit oriented) melalui alih teknologi tepat guna.

4. Bantuan mesin dan bibit tanaman pakan ternak dari pemerintah, dibeli oleh anggota yang ditunjuk didampingi oleh manajer.

5. Sistim pembagian keuntungan produksi
        Tata kelola produksi pakan ternak, akan diakukan melalui program kursus pendek atau pelatihan berbagai bidang keterampilan akan dilaksanakan di lokasi kelompok peternak, diluar kelompok maupun diperusahaan peternakan yang sudah maju.
Pendekatan yang akan dilakukan adalah melalui:
  • Study banding dan program magang di perusahaan peternakan yang sudah berhasil dikoordinasikan oleh Tenaga pendamping.
  • Pelatihan teknik memilih dan budidaya bibit tanaman pakan ternak.
  • Pelatihan manajemen hijauan pakan ternak, konsentrat dan penyusunan ransum dengan bahan lainnya.
  • Pelatihan manajemen produksi pakan ternak.
  • Pelatihan penguatan kelembagaan dan manajemen kelompok, dasar-dasar enterpreneurship, penyusunan rencana kerja, penyusunan rencana usaha dan cara pengusulan kredit ke bank, serta promosi penjualan.
  • Pemberdayaan (empowerment) kelompok menjadi kelompok mandiri dan tidak berketergantunagn dengan pemerintah, diantaranya ;
            -    Pelatihan administrasi kelompok.
            -    Pelatihan pembukuan keuangan kelompok
            -    Pelatihan penyusunan rencana usaha dan analisa usaha pakan ternak
            -    Pelatihan dasar-dasar koperasi
            -    Pembentukan koperasi tingkat kabupaten